Lanjut ya cerita tentang Final Sea Games. Saya tidak akan menceritakan tentang jalannya pertandingan, yang menurut saya pribadi terlalu membosankan untuk sebuah final yang mempertemukan dua musuh bubuyutan, Malaysia vs Indonesia.
Setelah berdebar-debar di pintu pemeriksaan, saya pun akhirnya bisa menikmati suasana didalam stadion. Waktu saat itu menunjukkan pukul 18:30, kalo dari jadwal resmi sih mestinya 30 menit lagi pertandingan di mulai. Tapi, kenyataannya adalah 15 menit setelah itu pemain kedua tim baru masuk kedalam lapangan untuk melakukan pemanasan.
Sorak sorai penonton dimulai, suasana makin bergemuruh karena beberapa tempat yang tadinya tampak masih kosong, seperti di sektor 20 – 22, saat ini sudah terisi penuh penonton. Sepertinya penonton di tribun sudah mulai masuk kedalem, entah terjadi apa diluar, sepertinya mulai banyak orang masuk kedalam stadion.
Bahkan kategori yang saya tempati, itu mulai dimasuki oleh orang-orang yang menurut pengakuan orang tersebut adalah jebolan dari kategori 2. “Udah lu santai dulu aja bos, keliatan lu capek banget.” Gw coba menenangkan satu dari dua orang yang langsung duduk disamping saya. “Iya bang, desek-desekan pas mau masuk.” Ujarnya. “Ya udah lu sekarang nikmatin karena lu beruntung dapet tempat duduk, liat orang-orang disana mereka belum tentu akan dapet tempat duduk sepanjang pertandingan.”
Ya, itu faktanya jebolan yang menurut berita-berita di media massa berujung maut itu memang mengerikan. Kalo orang yang belum berpengalaman dan fisiknya lemah, nyawa adalah ancamannya. Karena ratusan orang coba masuk melalui pintu kecil. Ini yang harus dibenahi oleh pengelola GBK dan pihak penyelenggara pertandingan. Keamanan dan Kenyamanan di pintu masuk seolah dilupakan oleh pihak manapun yang menggunakan GBK.
Tapi, saya juga tidak ingin menyalahkan pihak penyelenggara, karena terkadang kita sendiri sebagai penonton tidak pernah bisa tertib. Salah satu sebabnya sih gampang aja, kita mudah terprovokasi oleh orang yang tidak memiliki tiket, dan memang niat mencari jebolan.
Kembali ke suasana stadion, yang menarik perhatian saya ada dua. Yaitu layar besarnya sekarang dua-duanya sudah digital. Terakhir saya nonton itu masih cuman satu doank yang digital, yang satu masih model jadul banget. Dan dari sana terlihat menariknya dimana penyelenggara mempunyai hiburan tersendiri, dimana kameramen terus mengarahkan kameranya ke penonton, sehingga terkadang kita dapet momen menunjukkan spanduk kecil yang kita bawa, atau juga wanita cantik yang muncul di layar besar. Suasana akan gemuruh saat wanita cantik itu tampil dilayar.
Yang kedua dan cukup menarik adalah banyak munculnya spanduk-spanduk besar dukungan untuk timnas Indonesia. “Forza Indonesia”, “Le Grande Indonesia”, “Curva Sud Indonesia”, “Glory Glory Indonesia”, hingga fans club arir peterpan pun tidak lupa memberikan dukungan. Spanduk-spanduk berukuran besar itu membuktikan dukungan terhadap timnas tidak hanya datang dari suporter lokal, tapi juga dari fans club asing dan juga organisasi yang tidak berhubungan dengan sepakbola. Yah, semoga saja hal ini tidak jadi polemik di dunia maya.
Saya mungkin satu dari ribuan orang yang pernah menjadi saksi hidup final Sea Games 1997. Saat itu suasananya hampir seperti saat ini. Gelora Bung Karno penuh, kurang lebih saat itu ada 100.000 orang. Pertandingan berjalan menarik antara Indonesia dan Thailand. Dan sama juga dengan final Sea Games kali ini, Final 1997 itu juga harus diakhiri dengan adu penalti.
Yang membedakan adalah setelah final itu, suasana sangat mencekam, karena lemparan botol minuman lebih parah. Dan suasana diluar stadion pun sangat mencekam, meskipun tidak semencekam pertandingan Liga Indonesia.
Hal ini bertolak belakang dengan suasana final kali ini, walaupun kalah, tapi suasana masih dibilang kondusif, lemparan botol masih ada sih, tapi intensitasnya kurang, dan arahnya pun jika dulu mengarah langsung ke lapangan, kali ini hanya ke ke tribun bawah. Diluar stadion kondisi pun cukup kondusif, sehingga bisa dengan tenang untuk pulang ke rumah masing-masing.
Yang cukup mengerikan adalah setengah jam setelah pertandingan dimulai, di tribun bawah belakang gawang malaysia, banyak petugas kerja ekstra untuk menyelamatkan orang yang pingsan. Penyebabnya adalah mereka desak-desakan saat masuk. Dan didalam mereka pun sudah tidak bisa menikmati bangku kayu yang tersedia. Jadi mereka pun berdiri, itu pun dengan desak-desakan pulak. Wajar jika mereka kehabisan oksigen dan pingsan.
Ditambah lagi sekarang pagar disekitar stadion bertambah kokoh, sehingga menyulitkan petugas untuk mengevakuasinya. Ingatan saya langsung ke tragedi heysel, Belgia, 1985. Final Liga Champions antara Juventus dan Liverpool . Dimana saat itu penonton yang tidak punya tiket memaksa masuk dan akhirnya terjadi tumpukan manusia di dalam tribun, karena pager yang tinggi, akhirnya banyak orang terjebak dipager, untuk menyelematkan diri.
Itu adalah bagian dari fanatisme buta dari masyarakat gila bola Indonesia. Sebagian dari mereka seolah tak peduli dengan keselamatan dan kenyamanan. Yang penting adalah mendukung langsung di stadion bagaimanapun caranya. Mereka lupa bahwa makin banyak orang makin besar juga harapan pada timnas, dan beban mereka pun akan makin bertambah. Tapi, itu tidak bisa dijadikan alasan dibalik kekalahan dari Malaysia.
Sedikit trik dari saya jika ingin nyaman nonton di stadion adalah
- Datang lebih awal, kalo perlu dua jam sebelum pertandingan
- Pastikan anda membawa makanan dan minuman untuk mengantisipasi suasana yang tidak diinginkan dan demi kenyamanan kita juga.
- Jangan pilih duduk di dekat pintu masuk.
- Jangan pilih duduk di dekat jalur jalan, lebih baik pilih duduk agak ke tengah tapi nyaman untuk melihat pertandingan.
- Jika nonton di tribun bawah, setelah pertandingan harap langsung liat ke belakang, karena suka ada yang melempar botol minuman dari atas, intinya sih waspada aja.
Mudah-mudahan penyelenggara pertandingan bisa membuat suasana menonton sepakbola di Indonesia lebih nyaman lagi.
